Mohon tunggu, kami sedang memproses pembayaran Anda.
Mohon untuk tidak menutup atau melakukan reload halaman ini.
Terima Kasih.
Di bulan Agustus lalu, pasar keuangan global kembali berhadapan dengan ketidakpastian. Di Amerika Serikat (AS), perhatian investor global tertuju pada kombinasi inflasi yang masih berada di atas target 2%, kenaikan imbal hasil US Treasury (UST) tenor 30 tahun, serta arah kebijakan Federal Reserve (the Fed) di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Dalam pidatonya pada hari Jumat lalu (28 Agustus), Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen the Fed untuk membawa inflasi AS menuju target 2%. Pernyataan tersebut mendorong probabilitas kenaikan suku bunga the Fed pada pertemuan September meningkat menjadi sekitar 57%–60%, dari sekitar 35% pada pertengahan Agustus lalu (Lihat Figure 1).
Tekanan di pasar obligasi AS juga menjadi salah satu sumber volatilitas utama sepanjang Agustus. Imbal hasil UST tenor 30 tahun sempat meningkat hingga sekitar 5,34%, tertinggi sejak 2007, di tengah kekhawatiran investor global terhadap inflasi AS, risiko fiskal AS, dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Untuk merespons kondisi tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan peningkatan program pembelian kembali (buyback) UST tenor 10–30 tahun yang lebih besar dari biasanya. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga keteraturan bagi pasar obligasi AS tenor panjang, Namun, langkah ini lebih bersifat sebagai upaya stabilisasi pasar daripada solusi terhadap persoalan struktural fiskal AS. Hal tersebut mengakibatkan investor global kembali berinvestasi di emerging markets, emas, dan metals. (Lihat Figure 2).
Figure 1: Probabilitas Kenaikan the Fed Rate di bulan September
Sumber: Bloomberg | Figure 2: Pergerakan harga emas (USD/ounce) dunia sejak awal Juni 2026
Sumber: Bloomberg |
Ketidakpastian global juga cenderung naik dengan memanasnya konflik di Timur Tengah sejak hari Senin ini. Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mendorong harga minyak dunia sekitar US$88-90/barel. Perkembangan ini menjadi perhatian pasar karena harga energi yang tinggi berpotensi memperpanjang tekanan inflasi global dan semakin mempersempit ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Di tengah tekanan eksternal tersebut, pasar modal Indonesia justru menunjukkan tingkat resiliensi yang cukup baik sepanjang bulan Agustus.
IHSG sempat menghadapi volatilitas menjelang pengumuman MSCI August Index Review, bahkan turun ke level 6.268 pada 11 Agustus, sebelum kembali pulih setelah MSCI mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market (meskipun terdapat perubahan konstituen dengan keluarnya saham GOTO dan CPIN dari MSCI Global Standard Index serta sejumlah perubahan pada indeks Small Cap). IHSG kemudian kembali bergerak di atas level 6.500 dan ditutup pada level 6.518 pada hari Jumat lalu. Arus beli investor asing juga mulai menunjukkan perbaikan pada beberapa periode perdagangan, terutama pada saham-saham perbankan besar dan sejumlah saham berbasis komoditas.
Perbaikan sentimen terhadap Indonesia juga terlihat pada pasar obligasi dan nilai tukar Rupiah. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 18–19 Agustus lalu mempertahankan BI Rate pada 5,75%, dengan fokus menjaga stabilitas rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Pada saat yang sama, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun sekitar 39 bps dari 7,32% pada akhir Juli menjadi sekitar 6,93% pada hari Jumat lalu. Imbal hasil SRBI tenor 1-tahun juga mengalami penurunan ke level 7%. Hal tersebut mencerminkan membaiknya kondisi likuiditas dan turunnya premi risiko rupiah dibandingkan periode sebelumnya. Nilai tukar rupiah terhadap US Dollar juga menguat ke sekitar Rp17.700 per dolar AS dari level di atas Rp18.000 pada akhir Juli. Pergerakan rupiah, SBN, dan SRBI tersebut menunjukkan adanya pemulihan sentiment secara bertahap terhadap kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia
Sentimen domestik semakih positif pada 27 Agustus lalu di mana Komisi XI DPR menyetujui Ibu Destry Damayanti sebagai Gubernur BI menggantikan Pak Perry Warjiyo. Ibu Destry sebelumnya telah menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI sehingga pengangkatannya dipandang memberikan kontinuitas kebijakan moneter dan mengurangi ketidakpastian mengenai arah kepemimpinan bank sentral. Dalam proses fit and proper test, Ibu Destry juga menekankan pentingnya menjaga independensi BI sembari memperkuat koordinasi kebijakan untuk mendukung pertumbuhan dan stabilitas sistem keuangan. Di sisi fiskal, RAPBN 2027 yang menargetkan defisit sebesar 2,40% terhadap PDB (turun dari target APBN 2026 sebesar 2,68%) juga memberikan sinyal bahwa pemerintah tetap ingin menjaga disiplin fiskal di tengah agenda pertumbuhan yang lebih ekspansif.
Memasuki bulan September, kami melihat investor global akan kembali mencermati keputusan suku bunga the Fed, perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, serta dinamika imbal hasil UST tenor 30 tahun. Di dalam negeri, arah kebijakan BI di bawah kepemimpinan Ibu Destry Damayanti, stabilitas nilai tukar rupiah, perkembangan yield SBN dan SRBI, serta implementasi kebijakan fiskal akan menjadi faktor-faktor inti penting dalam menentukan arah pasar. Kami memandang volatilitas bukan hanya sebagai sumber risiko, tetapi juga sebagai peluang untuk tetap berinvestasi secara reguler dan disiplin. Untuk investor dengan profil risiko yang lebih tinggi, reksa dana pendapatan tetap dan campuran dapat mulai diakumulasi kembali secara bertahap, terutama setelah terjadinya penurunan imbal hasil obligasi domestik dan membaiknya sentimen terhadap aset rupiah. Sementara itu, bagi investor dengan profil yang lebih konservatif, reksa dana pasar uang tetap dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas dan mengurangi volatilitas portofolio. Pada akhirnya, alokasi investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan jangka wakstu investasi masing-masin mengingat volatilitas pasar global masih dapat meningkat sewaktu-waktu seiring fluktuasi ketegangan antara AS dan Iran serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan the Fed.
Disclaimer: Publikasi ini bukan merupakan penawaran untuk menjual atau membeli efek maupun derivatifnya yang tercantum di dalam publikasi ini. Isi publikasi ini bukan merupakan nasihat investasi kepada pihak mana pun. Rekomendasi yang terdapat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh informasi yang terdapat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber-sumber yang kami yakini dapat dipercaya, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang terdapat dalam publikasi ini terbatas pada tanggal pembuatannya dan dapat berubah sewaktu-waktu oleh PT BRI Manajemen Investasi (BRI-MI) tanpa pemberitahuan sebelumnya. BRI-MI tidak berkewajiban untuk memperbarui atau melengkapi informasi yang terdapat dalam publikasi ini. Publikasi ini hanya ditujukan untuk tujuan informasi dan tidak dimaksudkan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan investasi. Investor harus menentukan keputusan investasinya sendiri, dan BRI-MI beserta karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi apa pun yang diambil oleh investor.
