Artikel
Ulasan Pasar 19 Januari 2024
Berita Utama | 21-Feb-2024 15:48:07 - by boadmincontent
Zona Amerika
Inflasi bulan Januari hanya tumbuh 3.1% yoy lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3.4% yoy bulan Desember. Sedangkan secara bulanan tumbuh 0.3% mom sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0.2% mom  bulan Desember. 

Data penjualan retail bulan Januari turun -0.8% secara bulanan yang mengalami penurunan dibandingkan bulan Desember yang mengalami pertumbuhan 0.4% secara bulanan. Hasil pertemuan the Fed bulan Januari akan dirilis pekan ini, seharusnya tidak terlalu berbeda dengan pernyataan terakhir pimpinan the Fed yang menyebutkan bahwa memang akan ada penurunan suku bunga acuan di tahun 2024, namun penurunan pertama kali bukan akan terjadi di bulan Maret.

Zona Indonesia
Tingkat kepercayaan konsumen di bulan Januari masih berada di fase optimis di atas level 100 atau di level 125 membaik dibandingkan tingkat kepercayaan konsumen bulan Desember sebesar 123.8. Data penjualan mobil bulan Januari turun 26.1% yoy penurunan lebih dalam dibandingkan penurunan bulan Desember yang turun 19.1% yoy. 

Neraca perdagangan bulan Januari masih tercatat surplus US$ 2.01 miliar lebih rendah dibandingkan surplus US$ 3.3 miliar bulan Desember. Penurunan surplus ini disebabkan adanya peningkatan aktivitas impor yang tumbuh 0.36% yoy bulan Januari vs penurunan impor sebesar 3.81% yoy bulan Desember. Sedangkan ekspor turun 8.06% yoy bulan Januari. Data penjualan retail bulan Desember hanya tumbuh 0.2% yoy jauh lebih rendah dibandingkan penjualan retail bulan November yang tumbuh 2.1% yoy.

Beberapa data yang akan dirilis pekan ini adalah :
Pertemuan Bank Indonesia yang akan membahas kebijakan moneter diprediksi tidak ada perubahan suku bunga acuan
- Data pertumbuhan kredit bulan Januari, untuk bulan Desember kredit dapat tumbuh 10.38% yoy
- Suplai uang yang masuk dalam kategori M2 untuk bulan Januari, di bulan Desember suplai uang yang masuk dalam kategori ini tumbuh 3.5% yoy.
- Neraca transaksi berjalan kuartal IV akan dirilis pekan ini diprediksi tercatat defisit sebesar US$ -0.8 miliar vs defisit US$ -0.9 miliar. 
 
Market View:
IHSG selama sepekan ditutup menguat 1.39% WoW di level 7.335,545. Pada pekan ini cukup banyak sentimen domestik beberapa diantaranya data pertumbuhan kredit bulan Januari serta pertumbuhan suplai uang yang masuk dalam kategori M2 di bulan Januari, bila beberapa data domestik ini menunjukkan hasil yang positif seharusnya dapat memberikan efek yang positif pula bagi IHSG. Asing mencatatkan pembelian  bersih sebesar IDR 9.10 T selama sepekan (inflowYTD: IDR 20.05 T). Pada pekan lalu, tiga sektor yang mencatatkan penguatan tertinggi adalah sektor keuangan,infrastruktur dan energi masing-masing sebesar 1.35%, 1.15% dan 0.95% secara mingguan.

Pada tanggal 16 Februari 2024, yield benchmark SUN 5 tahun (FR0101) flatmenjadi 6,49%, yield benchmark 10 tahun (FR0100) naik menjadi 6,60%, yield benchmark SUN 15 tahun (FR0098) flat menjadi 6,78% dan yield benchmark 20 tahun (FR0097) flat menjadi 6,86%.

Untuk INDON 10 tahun (INDON 34), yield bergerak naik di level 5,03% dan yield US Treasury 10 tahun naik di 4,28% (dibandingkan dengan posisi per 9 Februari 2024 yaitu 4,94% dan 4,18%). Premi resiko Indonesia yang terefleksikan dalam CDS 5 tahun turun ke level 70.73 bps. Rupiah ditutup menguat 0,07% WoW pada level 15.624.

Kepemilikan asing pada pasar SUN per tanggal 13 Februari 2024 tercatat sebesar IDR 838.76 Triliun atau sebesar (14,63% dari total outstanding-nya) menurun dibandingkan posisi per 7 Februari 2024 yaitu sebesar IDR 842.67  Triliun (14,70% dari total outstanding-nya).

The Fed telah mengindikasikan kebijakan moneter yang longgar di tahun 2024 atau adanya penurunan suku bunga sebanyak tiga kali yang akan berdampak positif bagi pasar finansial dunia termasuk Indonesia. Tampaknya AS akan lebih mengalami soft landing karena untuk tahun 2023 ekonomi diprediksi masih tumbuh 2.6% yoy sedangkan tahun 2024 diprediksi tumbuh 1.4% yoy. Bank Indonesia juga diprediksi akan mengimplementasikan kebijakan moneter yang longgar di tahun 2024 yang akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Pasar obligasi akan bereaksi positif terlebih dahulu akibat perbaikan kondisi makroekonomi yang akan diikuti positifnya kinerja di IHSG.
 

Tetaplah berinvestasi!